Nasi Padangadalah nasi putih yang disajikan dengan berbagai macam lauk-pauk khas Minangkabau,Indonesia. Katapadangmerujuk padaibu kotaProvinsiSumatera Barat, Padang.
Nasi Padang adalah sebuah hidangan yang disajikan secara lengkap secara prasmanan dengan daging, ikan,sayuran, dan makanan pedas yang dimakan dengan nasi putih.
Nasi Padang merupakankomoditaseksporpaling terkenal dan masyarakat Minangkabau mempunyai kontribusi yang besar untukmasakan Indonesia.
Karena ekslusivitas di setiap daerah, istilahNasi Padangtidak digunakan di Sumatera Barat dan kata ini merujuk padanasi ramasyang berasal daribahasa Minangartinya nasi bungkus; sedangkan istilah tersebut hanya digunakan di luar Sumatera Barat.
Restoran Nasi Padang biasanya ditandai dengan bangunan bergayaRumah Gadangdilengkapi dengan gaya etalasenya yang khas.
Etalase nasi padang biasanya terdiri dari piring danmangkukyang ditumpuk sedemikian rupa, ditata dan diisi dengan berbagai hidangan.
Restoran Padang, terutama yang kecil - menengah, biasanya memakai nama dalam bahasa Minang. Nasi Padang yang disajikan di Restoran Padang mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, hingga Papua.
Restoran nasi padang juga merambah ke negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan Australia
Karena masyarakat Minangkabau memiliki kebiasaanmerantau(imigrasi), memberikan kontribusi terhadap penyebaran perantau Minang melampaui batas kampung halaman mereka di Sumatera Barat. BerdasarkanCNN Travel, Nasi Padang terdaftar sebagai salah satu dari 40 makanan yang masyarakat Singapura tidak bisa hidup tanpanya.
Asal Usul Penamaan
Istilah "Rumah Makan Padang" merupakan penamaan kontemporer yang mulai populer pada akhir 1960-an. Sebelumnya, istilah yang lazim digunakan untuk tempat makan khas Minang antara lain "lapau nasi", "kedai nasi", "los lambuang", atau "karan".
Penyebutan kata "Padang" dalam konteks ini berakar dari perubahan identitas yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau setelah berakhirnyaPemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia(PRRI) diSumatera Barat.
Pemberontakan tersebut resmi berakhir pada tahun1961, setelah itu pemerintah pusat berupaya menghapus pengaruh PRRI dan menindak para pendukungnya.Sebagai akibatnya, terjadi eksodus besar - besaran masyarakat Minangkabau ke berbagai daerah lain diIndonesia, terutama ke Pulau Jawa.
Dalam masa-masa penuh tekanan tersebut, masyarakat Minang yang merantau mulai mengubah identitas mereka, termasuk mengganti penyebutan etnik "Minangkabau" menjadi "Padang", serta mengganti nama - nama pribadi mereka agar lebih terdengar seperti orangJawa.
MenurutGusti Asnan, seorang sejarawan Minangkabau dariFakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, tindakan ini merupakan respons atas stigma sebagai "pemberontak" yang dialami masyarakat Minangkabau pasca PRRI.
Sejarah dan Perkembangan
Cikal bakal Rumah Makan Padang atau lapau nasi dapat ditelusuri hingga kuartal kedua abad ke-19, ketikaPadangmenjadi ibu kota administratifGouvernement van Sumatra's Westkustserta pusat aktivitas ekonomi diSumatera Barat.
Semua hasil bumi yang akan diekspor maupun kebutuhan pokok untuk wilayah tersebut harus melalui Kota Padang.Untuk mendukung sistem distribusi tersebut, pemerintah kolonialHindia Belandamembangun jaringan jalan yang menghubungkan berbagai daerah di Sumatera Barat.
Karena sarana transportasi saat itu masih bergantung pada kuda beban dan pedati, perjalanan dibagi menjadi beberapa etape atau perhentian.Di setiap etape tersedia pesanggrahan untuk pejabat kolonial serta penginapan bagi sais dan penuntun kuda. Penginapan ini juga berfungsi sebagai tempat makan dan menjadi cikal bakal dari rumah makan Minangkabau yang tersebar di sepanjang jalur perdagangan.
Menurut catatan sejarah, Rumah Makan Minangkabau telah hadir di luar wilayah Sumatera Barat sejak awal abad ke-20, namun penyebarannya menjadi masif pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.
Fenomena ini erat kaitannya dengan eksodus masyarakat Minangkabau pasca-PRRI, serta fakta bahwa sebagian besar laki-laki Minang memiliki kemampuan memasak yang baik, sehingga usaha rumah makan menjadi pilihan yang logis dan mudah dijalankan.
Penyajian
Ada dua jenis metode melayani di sebuah restoran Padang, Pesan (ordering) dan Hidang (serving).
Pesan adalah cara yang paling umum. Biasanya dilakukan oleh satu atau dua pelanggan. Pelanggan memeriksa jendela tampilan dan memilih hidangan yang mereka inginkan.
Untuk metode Hidang, pelanggan memesan langsung kepada pelayan di depan dekat etalase atau jendela tampilan / display dan hidangan segera disajikan. Hal ini biasanya umum dilakukan dalam skala kecil restoran Padang.
Pada restoran Padang yang lebih besar,hidang meriah(melayani) biasanya dilakukan. perjamuan hidangan paling cocok untuk makan dalam kelompok. Setelah pelanggan duduk, mereka tidak harus memesan.
Pelayan dengan piring ditumpuk di atas tangan mereka, akan segera menyajikan hidangan di atas meja. meja dengan cepat akan diatur dengan puluhan piring kecil yang penuh dengan kaya rasa makanan seperti daging sapirendang, kari ikan, direbus sayuran, cabai,terong, karihati sapi,babat, usus, atau tendon kaki, paru sapi goreng,ayam goreng, dan tentu saja,sambal, saus pedas di mana-mana di Indonesia .
Lusinan piring adalah jumlah yang normal, bisa mencapai 14 hidangan atau lebih.Nasi Padangakan langsung ada di meja secara prasmanan. Pelanggan hanya membayar apa yang mereka konsumsi dari prasmanan.
Cara Makan
Makanan di Minang adalah hal umum untuk makan dengan satu tangan. Mereka biasanya memberikankobokan, mangkuk kecil yang berisikan air dengan irisan jeruk nipis di dalamnya untuk memberikan aroma segar.
Air ini digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan setelah makan. Jika pelanggan tidak ingin makan dengan tangan, pelanggan dapat memintasendokdangarpu.